Ilmuwan yang cemerlang ini lahir di Pare-pare, Sulawesi Selatan, 25 Juni 1936. Lulus SMA Ia sempat mengikuti kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB) selama satu tahun (1954-1955). Kemudian pindah ke Aachen, Jerman Barat, terdaftar sebagai mahasiswa pada suatu Perguruan Tinggi Teknik di kota itu. Mengambil jurusan Konstruksi Pesawat terbang, Ia mendapatkan gelar Dipl. Ing. lima tahun kemudian (1960). Tahun 1965 Ia mempertahankan thesisnya dalam bidang yang sama, Konstruksi Pesawat Terbang, dan memperoleh gelar Doctor Ing. dengan nilai summacumlaude, sangat memuaskan.
Sementara itu Ia sempat menjabat Asisten dan Research Scientist pada Institut Kontruktur Ringan di Technische Hochschule Aachen (1960-1965), sarjana ahli pada MBB bagian Riset untuk Ilmu Pengetahuan
Dasar kekuatan Rangka dan Konstruksi (1966-1969), Kepala Devisi Metode dan
Tekcologi Pesawat Komersial dan pesawat Angkut Militer, MBB (1969-1973), dan
Wakil Presiden Direktur Aplikasi Teknologi MBB (1974).
Pada tahun itu pula Habibie kembali ke Indonesia, dan berturut-berturut Ia menempati berbagai jabatan penting, antara lain sebagai Penasehat Direktur Utama Pertamina, Kepala Devisi Advenced Technology dan Teknologi Penerbangan Pertamina sekaligus sebagai Penasihat Pemerintah dalam bidang yang sama, dan pada bulan April tahun itu, Ia diangkat pula sebagai Direktur Utama PT Nurtanio.
Pada tahun itu pula Habibie kembali ke Indonesia, dan berturut-berturut Ia menempati berbagai jabatan penting, antara lain sebagai Penasehat Direktur Utama Pertamina, Kepala Devisi Advenced Technology dan Teknologi Penerbangan Pertamina sekaligus sebagai Penasihat Pemerintah dalam bidang yang sama, dan pada bulan April tahun itu, Ia diangkat pula sebagai Direktur Utama PT Nurtanio.
Dalam tahun-tahun berikutnya karier
Habibie kian meningkat. Sosok pribadi dan hasil-hasil karyanya semakin tampil
kedepan. Tak lama lagi Tokoh ini kian banyak merebut perhatian orang dan
bertambah besar pula sorotan masyarakat atas dirinya. Dalam tahun 1977, Ia
diangkat menjadi Guru Besar dalam bidang Kontruktusi Pesawat Terbang pada
Institut Teknologi Bandung (ITB), kemudian pada tahun berikutnya, 1978,
berturut-turut Ia diangkat sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi RI dalam
Kabinet Pembangunan III. Ketua Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam,
Direktur Utama PT PAL Indonesia, Penasihat Dewan Direktur MBB, dan diangkat
pula sebagai Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi.
Kemudian Ia terpilih mewakili
Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan dalam Majelis Permusyawaratan Rakyat RI
(1982), dan tahun berikutnya, 1983, Ia dipilih kembali untuk menduduki jabatan
Menteri Riset dan Teknologi dalam Kabinet Pembangunan IV sekaligus sebagai
Ketua badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi. Selanjutnya dalam tahun yang
sama, Ia terpilih untuk menjadi anggota Kehormatan Lembaga Penerbangan dan
Angkasa Luar Jerman Barat, kemudian anggota The Royal Aeronautical Society
Kerajaan Inggris, Ketua Institute Aeronautical dan Austronautical Indonesia,
Direktur Utama Pesero PINDAD – Industri Logam Indonesia, Ketua Dewan Pembina
Industri Strategis Indonesia, Ketua Dewan Pembina Industri Pertahanan
Indonesia, dan diangkat pula sebagai Anggota Dewan Komisaris Pertamina.
Di samping karier dan jabatan yang
semarak dan majemuk itu, Habibie menyandung pula beberapa Tanda Jasa dari
berbagai Pemerintah, baik dari luar negeri maupun dari Pemerintah Indonesia
sendiri. Tanda jasa “Gran Cruz del Merito Aeronautico Condistinctivo Blaco”
diterima dari Pemerintah Kerajaan Spanyol (1980), kemudian dalam tahun yang
sama, Ia berturut-turut menrima penghargaan “Das Grosse Verdienst Kreuz” dari
Pemerintah Negara bagian Niedersachsen di Jerman Barat, dan “Das Grosse
Verdienst Kreuz mitStrem und Shulterband” dari pemerintah Republik Federasi
Jerman.
Dalam tahun 1982, Ia menerima
Satyalencana “Dwidya Sistha” dari Departemen Pertahanan dan Keamanan RI. Pada
tahun yang sama Ia menerima pula Bintang Mahaputra “Adiprana” dari pemerintah
Replubok Indonesia, dan sempat pula meraih “Hadiah Ilmu Pengetahuan”dari
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. Kemudian Ia terpilih sebagai “Tokoh
Tahun 1982” oleh harian Berita Buana, Jakarta, berkat gagasan dan
penyuluhan-penyuluhan yang dilakukannya, yang menyangkut langsung derajat dan
martabat Negara Indonesia dalam usahanya menjajarkan diri dengan Negara-negara
teknologi yang lebih maju.
Tanda Jasa yang Ia peroleh
kemudian, “Grootkruis in deOrder van Oranje Nassau”, disandangnya pada tahun
1983, dari Pemerintah Kerajaan Belanda. Awal tahun 1984 Ia terpilih sebagai
salah seorang dari dua puluh satu tokoh dunia dalam bidang Panerbangan dan
Angkasa Luar, atas pilihan para Editor Majalah Aviation Week and Space
Technology. Dengan demikian Habibie terpilih sebagai satu-satunya tokoh dari
benua Asia.
Bachruddin Jusuf Habibie, anak keempat dari
delapan bersaudara, menikah dengan salah seorang adik kelasnya yang Ia kenal sejak masa remaja: Dr.
Hasri Ainun Besari. Mereka dianugrahi dua orang putra, yaitu Ilham Akbar dan
Thareq Kemal.
Sumber : http://dickyz-blog.blogspot.com/2013/04/kumpulan-kursor-keren-untuk-blog.html#ixzz2idmKrCFM

Tidak ada komentar:
Posting Komentar