Chrome Pointer Sumber : http://dickyz-blog.blogspot.com/2013/04/kumpulan-kursor-keren-untuk-blog.html#ixzz2idmKrCFM

Rabu, 02 Juli 2014

Prof. Dr. Ing. Bacharuddin Jusuf Habibie

     Ilmuwan yang cemerlang ini lahir di Pare-pare, Sulawesi Selatan, 25 Juni 1936. Lulus SMA Ia sempat mengikuti kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB) selama satu tahun  (1954-1955). Kemudian  pindah ke Aachen, Jerman Barat, terdaftar sebagai mahasiswa pada suatu Perguruan Tinggi Teknik di kota itu. Mengambil jurusan Konstruksi Pesawat terbang, Ia mendapatkan gelar Dipl. Ing. lima tahun kemudian (1960). Tahun 1965 Ia mempertahankan thesisnya dalam bidang yang sama, Konstruksi Pesawat Terbang, dan memperoleh gelar Doctor Ing. dengan nilai summacumlaude, sangat memuaskan.
       Sementara itu Ia sempat menjabat Asisten dan Research Scientist pada Institut Kontruktur Ringan di Technische Hochschule Aachen (1960-1965), sarjana ahli pada MBB bagian Riset untuk Ilmu Pengetahuan Dasar kekuatan Rangka dan Konstruksi (1966-1969), Kepala Devisi Metode dan Tekcologi Pesawat Komersial dan pesawat Angkut Militer, MBB (1969-1973), dan Wakil Presiden Direktur Aplikasi Teknologi MBB (1974).

Pada tahun itu pula Habibie kembali ke Indonesia, dan berturut-berturut Ia menempati berbagai jabatan penting, antara lain sebagai Penasehat Direktur Utama Pertamina, Kepala Devisi Advenced Technology dan Teknologi Penerbangan Pertamina sekaligus sebagai Penasihat Pemerintah dalam bidang yang sama, dan pada bulan April tahun itu, Ia diangkat pula sebagai Direktur Utama PT Nurtanio.
Dalam tahun-tahun berikutnya karier Habibie kian meningkat. Sosok pribadi dan hasil-hasil karyanya semakin tampil kedepan. Tak lama lagi Tokoh ini kian banyak merebut perhatian orang dan bertambah besar pula sorotan masyarakat atas dirinya. Dalam tahun 1977, Ia diangkat menjadi Guru Besar dalam bidang Kontruktusi Pesawat Terbang pada Institut Teknologi Bandung (ITB), kemudian pada tahun berikutnya, 1978, berturut-turut Ia diangkat sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi RI dalam Kabinet Pembangunan III. Ketua Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam, Direktur Utama PT PAL Indonesia, Penasihat Dewan Direktur MBB, dan diangkat pula sebagai Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi.
Kemudian Ia terpilih mewakili Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan dalam Majelis Permusyawaratan Rakyat RI (1982), dan tahun berikutnya, 1983, Ia dipilih kembali untuk menduduki jabatan Menteri Riset dan Teknologi dalam Kabinet Pembangunan IV sekaligus sebagai Ketua badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi. Selanjutnya dalam tahun yang sama, Ia terpilih untuk menjadi anggota Kehormatan Lembaga Penerbangan dan Angkasa Luar Jerman Barat, kemudian anggota The Royal Aeronautical Society Kerajaan Inggris, Ketua Institute Aeronautical dan Austronautical Indonesia, Direktur Utama Pesero PINDAD – Industri Logam Indonesia, Ketua Dewan Pembina Industri Strategis Indonesia, Ketua Dewan Pembina Industri Pertahanan Indonesia, dan diangkat pula sebagai Anggota Dewan Komisaris Pertamina.
Di samping karier dan jabatan yang semarak dan majemuk itu, Habibie menyandung pula beberapa Tanda Jasa dari berbagai Pemerintah, baik dari luar negeri maupun dari Pemerintah Indonesia sendiri. Tanda jasa “Gran Cruz del Merito Aeronautico Condistinctivo Blaco” diterima dari Pemerintah Kerajaan Spanyol (1980), kemudian dalam tahun yang sama, Ia berturut-turut menrima penghargaan “Das Grosse Verdienst Kreuz” dari Pemerintah Negara bagian Niedersachsen di Jerman Barat, dan “Das Grosse Verdienst Kreuz mitStrem und Shulterband” dari pemerintah Republik Federasi Jerman.
Dalam tahun 1982, Ia menerima Satyalencana “Dwidya Sistha” dari Departemen Pertahanan dan Keamanan RI. Pada tahun yang sama Ia menerima pula Bintang Mahaputra “Adiprana” dari pemerintah Replubok Indonesia, dan sempat pula meraih “Hadiah Ilmu Pengetahuan”dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. Kemudian Ia terpilih sebagai “Tokoh Tahun 1982” oleh harian Berita Buana, Jakarta, berkat gagasan dan penyuluhan-penyuluhan yang dilakukannya, yang menyangkut langsung derajat dan martabat Negara Indonesia dalam usahanya menjajarkan diri dengan Negara-negara teknologi yang lebih maju.
Tanda Jasa yang Ia peroleh kemudian, “Grootkruis in deOrder van Oranje Nassau”, disandangnya pada tahun 1983, dari Pemerintah Kerajaan Belanda. Awal tahun 1984 Ia terpilih sebagai salah seorang dari dua puluh satu tokoh dunia dalam bidang Panerbangan dan Angkasa Luar, atas pilihan para Editor Majalah Aviation Week and Space Technology. Dengan demikian Habibie terpilih sebagai satu-satunya tokoh dari benua Asia.
Bachruddin Jusuf Habibie, anak keempat dari delapan bersaudara, menikah dengan salah seorang adik  kelasnya yang Ia kenal sejak masa remaja: Dr. Hasri Ainun Besari. Mereka dianugrahi dua orang putra, yaitu Ilham Akbar dan Thareq Kemal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar